• SMK CORDOVA MARGOYOSO
  • Multimedia, Farmasi ,Teknik Bisnis Sepeda Motor dan Kimia Industri

Belajar dari Hal-Hal Yang Menarik Tentang Peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw

Warga Cordova yang berbahagia...

Sebentar lagi kita diingatkan tentang satu peristiwa agung dari sirah nabawiyyah yaitu peristiwa terjadinya Isra' Mi'raj Nabi Muhammad saw dari masjidil haram s.d sidratul muntaha. 

Banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra' Mi'raj ini, namun dalam kesempatan ini mari kita belajar tentang hal-hal yang menarik dibalik peristiwa agung tersebut, diantaranya adalah :

Kesatu :  waktu Isra Mi’raj

Ada beberapa perbedaan pendapat di antara para ulama atau ahli sejarah terkait dengan tanggal dan tahun kejadian Isra Mi’raj.

Menurut at-Thabari, Isra Mi’raj terjadi pada tahun ketika Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan risalah kenabian. Ada juga yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj
berlangsung pada tahun kelima kenabian (an-Nawawi dan al-Qurthubi), malam tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian (al-Allamah al-Manshurfuri), enam bulan sebelum hijrah atau bulanMuharram tahun ke-13 kenabian, dan setahun sebelum hijrah atau bulan Rabi’ul Awwal tahun ke-13 kenabian. Sementara menurut riwayat Ibnu Sa’ad, peristiwa agung tersebut terjadi 18 bulan sebelum hijrah. 

Terlepas dari perbedaan tersebut, pendapat yang paling populer dan kuat adalah Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Pada tanggal ini, setiap tahunnya, umat Islam di seluruh dunia memperingati Isra Mi’raj.

Kedua, pembedahan dada Nabi Muhammad. 

Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad dan ‘membersihkan’ hatinya dengan air zamzam sebanyak empat kali.

  1. saat Nabi Muhammad berusia empat tahun dan masih tinggal bersama dengan ibu
    susunya, Sayyidah Halimah as-Sa’diyah, di kampung Bani Sa’d.
  2. ketika Nabi Muhammad berusia 10 tahun. Dada Nabi Muhammad dibelah lagi saat usianya mendekati usia taklif (mukallaf). Hatinya dibersihkan Jibril dengan air zamzam agar tidak tercampur dengan hal-hal yang dapat membuat seorang pemuda cacat
  3. ketika Jibril membawa wahyu pengangkatan nabi atau saat usia Nabi Muhammad 40 tahun. Hikmah di balik pembelahan ketiga ini adalah agar Nabi Muhammad mampu menerima wahyu dengan hati yang kuat, bersih, dan diridhai
  4. ketika Isra Mi’raj. Sesuai dengan salah satu hadits riwayat Bukhari, Jibril membelah dada Nabi Muhammad dan membersihkan hatinya—agar dipenuhi dengan iman- sesaat sebelum peristiwa Isra Mi’raj.

Ketiga, buraq.

Nabi Muhammad mengendarai buraq ketika dalam perjalanan dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsa Yerusalem, dan dari Masjidil Aqsa ke Sidrah al-Muntaha.

Kata buraq seakar dengan kata barq, yang berarti kilat. Mungkin saja itu menjadi isyarat bahwa kecepatan buraq seperti kilat atau cahaya. Diriwayatkan bahwa ukuran tubuh buraq lebih kecil daripada kuda dan lebih besar dari bada bagal. Buraq melangkah sejauh matanya memandang 

Keempat, jasad atau roh

Ada tiga pendapat berbeda mengenai bagaimana Nabi Muhammad di-Isra Mi’raj-kan oleh Allah.

  1. Nabi Muhammad menjalani Isra Mi’raj hanya dengan rohnya saja. Dalam Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2013), mereka yang berpendapat seperti ini berpegang pada keterangan Ummu Hani/Hindun binti Abi Thalib. Diriwayatkan, pada saat terjadi Isra Mi’raj, Nabi Muhammad tengah berada di rumah Ummu Hani’ . Nabi tidur setelah mengerjakan shalat akhir malam. Sebelum shubuh, Nabi membangunkan Ummu Hani’ . Kemudian setelah melaksanakan
    ibadah pagi, Nabi Muhammad menceritakan bahwa dirinya ke Masjidil Aqsa dan shalat di sana, sesaat setelah shalat akhir malam. Mereka juga mendasarkan pada perkataan Sayyidah Aisyah dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan terkait dengan Isra Mi’raj Nabi hanya dengan rohnya saja.
  2. Isra Nabi dengan jasad dan roh, sementara Mi’raj dengan roh. Landasan mereka
    berpendapat bahwa Nabi ber-Isra dengan jasad adalah cerita Suraqah dan sebuah kaúlah lain. Jadi, pada saat Isra, Nabi melalui kaúlah Suraqah yang untanya tersesat. Lalu Nabi menunjukkannya. Nabi juga meminum dari sebuah bejana milik kaúlah lain, dan kemudian menutupnya kembali. Kedua kaúlah itu membenarkan cerita tersebut ketika orang-orang menanyainya.
  3. Nabi Isra Mi’raj dengan jasad. Ini merupakan pendapat yang paling masyhur karena jumhur ulama, baik salaf maupun khalaf, sepakat bahwa Nabi mengalami Isra Mi’raj dalam keadaan terjaga, dengan dengan jasmani dan ruhaninya sekaligus. Dasarnya, seperti diuraikan Said Ramadhan al-Buthy dalam The Great Episodes of Muhammad SAW (2017), kalau seandainya ini hanya melibatkan
    aspek ruhani saja (mimpi), maka Kaum Quraisy dan masyarakat Makkah tidak akan menunjukkan keheranan dan ketidakpercayaan yang begitu besar. Karena, mimpi tidak ada batasnya dan siapapun bisa melakukan atau mengklaim bermimpi seperti itu. 

Kelima, antara khamr, susu, dan madu. 
Setelah shalat dua rakaat di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad diberi tiga gelas berisikan khamr (minuman keras), susu, dan madu. Jibril memintanya untuk memiliki satu di antaranya. Maka Nabi Muhammad memilih gelas yang berisikan susu. “Engkau memilih fittrah, ” kata Jibril. Menurut Al-Buthy, itu menjadi pertanda bahwa Islam adalah agama fitrah. Maksudnya, akidah dan semua hukum Islam sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada satu pun dari Islam yang bertentangan dengan tabiat asli manusia.

Keenam, bertemu dengan nabi-nabi terdahulu.

Nabi Muhammad naik ke lapisan-lapisan langit ditemani Malaikat Jibril.

Di langit pertama, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Adam.

Di langit kedua, bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakariya dan Nabi Isa bin Maryam.

Di langit ketiga, bertemu Nabi Yusuf 

Di langit keempat, berjumpa dengan Nabi Idris.

Di langit kelima, bertemu Nabi Harun bin Imran

Di langit keenam, bertemu dengan Nabi Musa bin Imran

Lalu, di langit ketujuh Nabi Muhammad bersua dengan Nabi Ibrahim.

Nabi-nabi tersebut menyambut Nabi Muhammad dengan salam dan menetapkan nubuwah terhadapnya.

Ketujuh, melihat siksa neraka.

Nabi Muhammad diperlihatkan oleh Allah tentang berbagai macam siksa yang diterima seseorang karena melakukan perbuatan yang dilarang. Hal ini dilihat Nabi Muhammad sesudah berjumpa dengan Nabi Adam di langit pertama, sebagaimana cerita Ibnu Hisyam, dikutip dari Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2013).

Nabi Muhammad melihat orang-orang yang bibirnya seperti moncong unta, tangannya menggenggam segumpal api, lalu dimasukkan ke dalam mulut hingga keluar dari duburnya. Kata Malaikat Jibril, orang-orang itu adalah pemakan harta anak yatim secara tidak sah. Kemudian Nabi melihat melihat orang-orang dengan perut besar—sehingga membuat mereka tidak bisa beranjak- sebagai akibat dari melakukan riba. 

Beliau lalu menyaksikan siksaan pezina, yaitu mereka memilih memakan daging busuk padahal di hadapannya juga ada daging yang baik. Lalu, Nabi melihat perempuan yang bergelayut pada payudaranya karena mereka suka memasukkkan laki-laki lain yang bukan dari keluarganya. Nabi Muhammad juga bertemu dengan penjaga neraka, yaitu Malaikat Malik. Disebutkan Jibril bahwa Malik tidak bisa senyum. Karenanya, ketika bertemu dengan Nabi, dia tidak mesem sama sekali.

“Seandainya dia bisa tertawa, nisacaya dia akan tertawa kepadamu,” kata Jibril.

Kedelapan, melihat surga.

Jibril juga mengajak Nabi Muhammad untuk melihat-lihat surga. Di situ, Nabi Muhammad melihat seorang perempuan dengan bibir yang begitu merah merekah. Setelah ditanya, perempuan itu mengatakan bahwa dirinya adalah ‘miliknya’ Zaid bin Haritsah.

Nabi juga diajak ke Baitul Ma’mur—Ka’bahnya penduduk langit- di langit ketujuh. Di sini, sebanyak 70 ribu penduduk langit beribadah setiap saatnya. Setelah selesai mereka pergi dan tidak lagi ke situ. Di samping itu, Nabi juga melihat Arsy (Singgasana Tuhan) dan Sidrah al-Muntaha yang sangat indah dan tidak terlukiskan dengan kata-kata. 

Kesembilan, bertemu dengan Allah.

Ulama berbeda pendapat mengenai bagaimana Nabi Muhammad ‘bertemu’ dengan Allah. Apakah dengan mata telanjang atau dengan mata hati atau sanubari? Merujuk Sirah Nabawiyah (Syekh Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, mengutip perkataan Ibnu Taimiyah, mengatakan bahwa Nabi Muhammad melihat Allah seperti melihat manusia. Artinya, dengan mata telanjang. Pendapat lain yang dinukilkan dari perkataan Ibnu Abbas, menyebutkan bahwa Nabi melihat Allah dengan multak dan dengan sanubarinya. 

Kesepuluh, shalat lima waktu.

Allah mensyariatkan shalat lima waktu dalam peristiwa Isra Mi’raj—sebelumnya umat Islam shalat dua kali, yaitu saat pagi dan petang. Tidak seperti syariat-syariat yang lainnya, Allah langsung mengundang Nabi Muhammad untuk menemuinya dan menerima kewajiban shalat lima kali dalam sehari semalam.

Ada kisah menarik di balik syariat shalat lima waktu ini. Semula Allah mewajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya shalat 50 kali dalam. Beliau menerima itu. Lalu turun dan bertemu dengan Nabi Musa. Nabi Musa penasaran perihal perintah apa yang didapat Nabi Muhammad dari Allah. 

“Shalat lima puluh kali,” jawab Nabi Muhammad. 

Mendengar jawaban itu, Nabi Musa meminta Nabi Muhammad kembali menghadap Allah dan meminta dispensasi. Katanya, umat Nabi Muhammad tidak akan sanggup mengerjakan shalat sebanyak itu dalam sehari semalam. Beliau kembali menghadap Allah dan meminta keringanan. Allah mengabulkan dan menguranginya 10. Jadilah 40. Ketika melewatinya, Nabi Musa meminta agar Nabi Muhammad kembali menemui Allah dan meminta dikurangi lagi. Hal itu terjadi beberapa kali hingga Allah ‘hanya’ mewajibkan shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad dan umatnya. 

Sebetulnya Nabi Musa mendesak Nabi Muhammad untuk meminta keringan lagi. Namun Nabi Muhammad tidak berkenan. Beliau malu karena sudah bolak-balik meminta keringanan hingga akhirnya tinggal lima. Beliau ridha dan menerima perintah Allah untuk shalat lima kali satu hari satu malam.   

Kesebelas, Abu Bakar mendapatkan gelar as-Siddiq.

Keesokan harinya, Nabi Muhammad menceritakan apa yang telah dialaminya. Yakni pergi ke Masjidil Aqsa dari Masjidil Haram, kemudian lanjut naik ke lapisan-lapisan langit hingga Sidrah al-Muntaha. Hal itu membuat musuh-musuh Islam mengolok-ngolok Nabi Muhammad. Bagaimana mungkin perjalanan yang saat itu membutuhkan waktu sebulan untuk pergi dan sebulan untuk pulang, ditempuh hanya dalam satu malam saja. Bagi mereka itu adalah sesuatu yang mustahil. Sehingga mereka menyebut Nabi Muhammad bohong dan mengada-ada.

Merujuk Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2013), penjelasan Nabi Muhammad itu juga membuat sangsi sebagian pengikutnya sehingga mereka akhirnya murtad. Padahal sebelumnya mereka sudah iman. Namun, karena peristiwa yang tidak masuk akal itu, mereka akhirnya meninggalkan Islam. 

Sayyidina Abu Bakar tampil ke depan dan membantah orang-orang yang telah mendustakan Nabi Muhammad. Ia kemudian menemui Nabi Muhammad dan mendengarkan langsung penjelasan tentang apa saja yang dilihat dan dialami Nabi selama Isra Mi’raj, termasuk gambaran Masjidil Haram. Abu Bakar kebetulan pernah pergi ke Yerusalem. 

Setelah selesai mendengarkan cerita Nabi, Abu Bakar langsung mendeklarasikan bahwa dirinya percaya dengan apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Seluruhnya. Tanpa ragu sedikit pun. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad kemudian memberikan julukan kepada Abu Bakar dengan ‘as-Siddiq’ (yang berkata benar).

semoga bermanfaat.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Kriteria Aswaja An-Nahdliyyah

Aswaja (Ahlussunnah wal jama'ah) bagi NU (Nahdlotul Ulama) dipopulerkan dengan sebutan Ahlussunnah Wal Jama'ah An-Nahdliyyah mempunyai ciri khas yang menjadi identitastas watak dan kara

12/01/2022 10:10 - Oleh Administrator - Dilihat 338 kali
Adat atau Tradisi dalam Beribadah

Adat atau Tradisi dalam Beribadah   Setiap komunitas selalu mempunyai adat dan tradisi khas sesuai dengan peradaban dan falsafah hidup mereka. Adat dan tradisi tersebut lahir sebag

08/01/2022 07:01 - Oleh Administrator - Dilihat 308 kali
Etika dan Tata Krama Mau Tidur

Assalamu’alaikum....  Tidur adalah salah satu aktifitas kita untuk mengistirahatkan tubuh dan merefresh badan bahkan jiwa kita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Tidur di de

20/11/2021 11:00 - Oleh Khoiruddin Farid, S.Pd.I., M.Si - Dilihat 601 kali